siap siaga.... 1..2..3..


Rabu, 13 Juni 2012

Hanya Allah Sebaik-Baik Tempat Mengadu




Rasulullah Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda :
Allah ’Azza wa Jalla akan turun ke langit dunia setiap malam ketika sepertiga malam yang terakhir seraya berfirman : ”Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku akan menerima permintaannya dan siapa yang meminta keampunan dari-Ku maka Aku akan mengampuninya.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hanya Allah Sebaik-Baik Tempat Mengadu

Di Thaif yang tiba-tiba ramai, orang-orang berhamburan keluar. Mengusir sosok mulia yang datang dengan niat mulia. Rasulullah yang khusus datang ke tempat itu untuk menyampaikan ajaran Islam, justru disambut dengan lemparan batu, cacian dan dikejar-kejar layaknya seorang pesakitan.
Sahabat Zaid bin Haritsah RA sudah berusaha sekuat tenaga melindungi tubuh Rasulullah dari lemparan batu. Tapi iapun kewalahan, hingga ia sendiri mengalami luka di kepalanya. Maka Rasulullahpun terluka. Tidak saja fisiknya, tapi juga hatinya.
Darah Rasulullah, sosok manusia paling agung itu mengalir, menyela butir-butir pasir tanah Thaif yang gersang. Rasulullah berlari sambil terseok-seok menghindari lemparan batu yang terus mengejarnya hingga ia berindung ke sebuah kebun milik Uqbah bin Rabi’ah. Dalam kondisi payah itu, sambil menahan sakit, ia bermunajat kepada Allah, mengadukan segala yang ia terima dari orang-orang yang tak mengerti itu.
“Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat Yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Engkaulah pelindung bagi si lemah, dan Engkau jualah pelindungku. Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka semua itu tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku.”
Rasulullah SAW adalah manusia yang memiliki kualitas moral paling baik sepanjang zaman. Namun di hamparan tanah Thaif, Rasulullah SAW mengalami kejadian yang sangat menyesakkan dada. Itulah alur hidup dan jalan perjuangan yang harus dilaluinya.
Tetapi yang harus dicatat, dalam suasana yang sangat pahit seperti itu, Rasulullah mengajarkan betapa masih ada tempat mengadu yang segar disaat yang lain menyakitkan. Tempat mengadu yang lapang di saat yang lain sempit, yang berkenan mendengar disaat yang lain menutup mata dan menyumbat telinga. Tempat mengadu itu adalah Allah SWT.
Maka untaian pengaduan Rasulullah SAW dalam munajat itu tidak saja deklarasi kebergantungan kepada Allah,  tapi juga pencarian jawaban akan rasa tentram dari keseluruhan peristiwa yang sangat menyakitkan. Karenanya di akhir do’a itu Rasulullah SAW menegaskan, bahwa jika Allah tidak murka, maka semua kepahitan itu tak akan ia hiraukan. Inilah yang dimaksud jawaban ketentraman di balik kepahitan itu.
Karenanya, di satu sisi Rasulullah memang mengajarkan betapa setiap kita sangat perlu kepada Allah. Betapa setiap kita perlu bermunajat kepada Allah. Betapa setiap kita sangat membutuhkan saat-saat untuk mengadu kepada Allah, menyampaikan segala beban-beban hidup yang berat. Tetapi di sisi lain Rasulullah juga mengajarkan betapa munajat sangat kita perlukan sebagai tempat untuk kita memohon kepada Allah agar kesulitan yang kita hadapi bukan merupakan murkaNya. Bahkan dalam urusan yang menyenangkanpun, kita harus bermunajat kepada Allah, memohon agar kesenangan itu bukan bentuk lain dari cara Allah ’mengasih hati’  untuk kemudian berubah menjadi awal dari malapetaka kehidupan.
Setiap mukmin harus meyakini bahwa dirinya tidak lepas dari rasa bergantung kepada Allah. Tidak ada tempat mengadu yang lebih baik dari Allah SWT. Ia Maha Mendengar keluh kesah hambaNya. Maha Melihat kesusahan dan kesenangan hambaNya. Kepercayaan ini pula yang diajarkan Rasulullah ketika ia hendak kembali lagi ke Mekkah, setelah di Thaif diperlakukan semena-mena.
Zaid yang menemaninya ketika itu bertanya ”bagaimana engkau hendak pulang ke Mekkah, sedangkan penduduknya telah mengusirmu dari sana?” dengan tenang dan  mantap Rasul menjawab pertanyaan Zaid, ”Wahai Zaid, sesungguhnya Allah akan menolong agama-Nya dan membela nabi-Nya.” (Sirah Ibu Hisyam)
Begitulah, meski dalam hadist lain disebutkan bahwa peristiwa Thaif di mata Rasulullah jauh lebih berat daripada peristiwa Uhud, namun Rasulullah tetap memupuk keyakinan, menanamkan semangat dan keyakinan bahwa bersama Allah, segala kesulitan akan punya jalan kemudahan.
Episode pengusiran dari Thaif yang dialami rasulullah juga mengisyaratkan pelajaran penting lainnya. Bahwa betapapun tingginya jiwa seseorang, ia takkan bisa terlepas dari fitrah dan kadar kemanusiaannya. Fitrah perasaan yang merasa senang, sedih, ingin pada ketenangan, menghindari kesulitan dan sebagainya. Merasa sakit bila mengalami penderitaan, merasa gembira bila keinginannya tercapai. Merasa sedih kala melewati peristiwa yang menyakitkan, merasa senang bila mengalami kemudahan.
Tetapi sekali lagi, itu semua justru dalam konteks yang tak jauh berbeda, bahwa setiap orang memerlukan sandaran hidup yang kokoh. Dan tidak ada tempat bersandar yang lebih kokoh dari Allah SWT. Sementara sesama manusia tidak akan ada yang bisa menjadi tempat mengadu yang sesungguhnya. Dalam istilah Ibnul Qayyim Rahimahullah, ”Orang bodoh adalah yang mengadukan Allah kepada manusia. Andaikan ia tahu siapa Robb-nya, tentu ia tak akan mengadukan-Nya kepada manusia, dan andaikan dia tahu siapa manusia, tentu dia tidak akan mengadu pada mereka.”
Mengadukan Allah pada manusia, artinya mengeluhkan segala permasalahan dan beban hidup yang diberikan Allah atas seseorang, pada sesama makhluk. Hal itu tak akan terjadi bagi orang yang mengerti siapa Allah dan siapa manusia. Sebagian dari salafusshalih mengatakan ”Demi Allah, mengapa engkau mengadukan Yang Mengasihimu kepada siapa yang tidak mengasihimu?”
Selanjutnya menurut Ibnul Qayyim, ada tiga tingkatan yang terkait dengan masalah pengaduan. Pengaduan yang paling buruk ialah mengadukan Allah kepada makhluk-Nya. Yang paling tinggi ialah mengadukan diri sendiri kepada Allah. Dan yang pertengahan ialah mengadukan makhluk kepada Allah.
Allah memiliki salah satu sifat yang disebut Ash Shamad, atau tempat memohon pertolongan. Dalam Al Qur’an, kata Ash Shamad hanya ditemukan dalam satu ayat dari ayat kedua surat Al Ikhlas yang berbunyi, ”Allahu Ash Shamad”.Menurut Ibnu Abbas, kandungan makna Ash Shamad itu adalah sesuatu yang telah sempurna kemuliaannya, yang agung dan mencapai puncak keagungannya, yang kaya dan tidak ada yang melebihi kekayaannya, yang perkasa dan sempurna keperkasaannya, yang mengetahui dan sempurna pengetahuannya, yang bijaksana dan tiada cacat dalam kebijaksanaannya. Itulah Allah SWT.
Sifat Ash Shamad artinya hanya Allah satu-satunya tumpuan harapan, segala kebutuhan dalam wujud ini tidak tertuju kecuali kepada-Nya. Dan yang membutuhkan sesuatu tidak boleh mengajukan permohonan kepada selain-Nya. Sebagaimana dalam sebuah hadits shahih disebutkan Rasulullah SAW mengajarkan Ibnu Abbas, ”Jika engkau meminta maka mintalah kepada Allah dan jika engkau membutuhkan pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah.”  Allah SWT berfirman, ”Apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah(lah) datangnya, dan bila kamu ditimpa kemudharatan maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan.” (QS. An Nahl : 53)
Di dalam Al Qur’an Allah menjelaskan, bahwa orang-orang yang enggan memohon kepada Allah adalah orang-orang yang sombong. Allah SWT berfirman ”Dan Tuhanmu berkata, memohonlah kepada-Ku, niscaya aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari menyembahku, akan memasuki neraka secara hina.” (QS. Al Mu’min : 60)
Tak ada suasana paling indah, kecuali hadir dengan penuh ketundukan dan rasa kebergantungan yang dalam dihadapan Allah SWT. Terlebih di saat malam yang sunyi. Ketika dunia terlelap dalam diam.
Ditengah segala kesulitan hidup yang terus menumpuk, semestinya, seorang muslim punya saat-saat khusus untuk bermunajat kepada Allah di luar kewajiban rutinnya yang tetap. Dalam kesendirian, dalam suasana hening, dalam kesunyian dunia, kita bisa menyendiri mengadu kepada Allah, seluas-luasnya, sebebas-bebasnya, tanpa sedikitpun merasa tak didengarkan.
Dikutip dari http://hujanhijau83.multiply.com 




Minggu, 27 Mei 2012

OPEN HOUSE 2012_PROUDLY PRESENT by GEMMA JP


Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam Ahad ..
Lets Join Us,,,
di Acara OPEN HOUSE GEMMA JP 2012
"Generasi Muda MUslim Pembawa Perubahan Bangsa"
Ahad, 27 Mei 2012
Tempat di TK Al-Azhar Jakapermai (samping Masjid Al Azhar Jakapermai) Jl. KH. Noer Ali Kalimalang -Bekasi Barat
Pukul. 09.00-14.00 WIB ...
Jangan di lewatkan yah,,, GRATIS loch ... ^_^

---Acaranya Apa aja sih??---
*Kajian Islam bersama ust.Ismeidas
*Perform Nashid ASMA VOICE
*FUTSAL (u/Ikhwan)
*Keterampilan sulam Pita bersama Ibu Evi Meilina
& Special PERFORM DRAMA oleh GEMMA JP

Acara Pasti seru,, makanya sayang sekali untuk di lewatkan,,,
Mau gabung,,
Caranya Ketik DAFTAR#OH#NAMA#ALAMAT
Contoh : DAFTAR#OH#AHMAD#BEKASI
Kirim ke (ikhwan) 0857 1619 4600 ------- (Akhwat) 0852 6117 8886
atau datang langsung ke TKP ^_^
ajak sahabat-sahabat antum semua ya .....

Info lengkap:
follow @GEMMAJakapermai & Hub CP di atas...
Syukron Jazakillah ...

Senin, 21 Mei 2012

OPEN HOUSE 2012 _PROUDLY PRESENT by GEMMA JP

Assalamu'alaikum Wr. Wb
Salam Ahad ..
Lets Join Us,,,
di Acara OPEN HOUSE GEMMA JP 2012
"Generasi Muda MUslim Pembawa Perubahan Bangsa"
Ahad, 27 Mei 2012
Tempat di TK Al-Azhar Jakapermai (samping Masjid Al Azhar Jakapermai) Jl. KH. Noer Ali Kalimalang -Bekasi Barat
Pukul. 09.00-14.00 WIB ...
Jangan di lewatkan yah,,, GRATIS loch ... ^_^

---Acaranya Apa aja sih??---
*Kajian Islam bersama ust.Ismeidas
*Perform Nashid ASMA VOICE
*FUTSAL (u/Ikhwan)
*Keterampilan sulam Pita bersama Ibu Evi Meilina
& Special PERFORM DRAMA oleh GEMMA JP

Acara Pasti seru,, makanya sayang sekali untuk di lewatkan,,,
Mau gabung,,
Caranya Ketik DAFTAR#OH#NAMA#ALAMAT
Contoh : DAFTAR#OH#AHMAD#BEKASI
Kirim ke (ikhwan) 0857 1619 4600 ------- (Akhwat) 0852 6117 8886
atau datang langsung ke TKP ^_^
ajak sahabat-sahabat antum semua ya .....

FOLLOW @GEMMAJakapermai 



Info lengkap:
follow @GEMMAJakapermai & Hub CP di atas...
Syukron Jazakillah ...

Kamis, 03 Mei 2012

Hidarilah Perdebatan

Assalamu'alaikum Wr. Wb

Menyapa di pagi Jum'at 04/05/12,, semoga Allah senantiasa melindungi kita semua, Amin
Banyak diantara kita selalu memperdebatkan sesuatu yang tak berujung dan tidak menemukan titik temu, bahkan banyak pula dengan perdebatan seseorang menjadi sosok yang angkuh merasa benar dengan argumennya dan bisa saja tanpa ia sadari menyakiti hati saudara yang lain, atau perdebatan membuka gerbang perpecahan & kesalah fahaman sehingga timbulah pertikaian atau permusuhan dengan saudaranya sendiri. Banyak realita dalam kehidupan kita, banyak contoh yang bisa kita ambil dari hikmah meninggalkan perdebatan.


Rasululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
Aku adalah penjamin sebuah istana di taman surga bagi siapa saja yangmenghindari pertikaian (perdebatan) sekalipun ia benar; dan (penjamin) istana di tengah-tengah surga bagi siapa saja yang meninggalkan dusta sekalipun bercanda. HR. Abu Daud

Berpangkal dari hadits di atas, hal ini merupakan petunjuk yang semestinya kita lakukan. Meski kita tidak melihat Rasulullah, tapi kita meyakini bahwa hadits-hadits yang jelas kesahihannya bersumber dari Rasulullah. Ulama-ulama dan para periwayat hadits di masa lampau hingga saat ini berusaha mengkaji tingkatan hadits dan kandungan Al Qur’an sehingga tercermin dalam akhlak mereka sehari-hari dan memudahkan kita untuk mengambil rujukan kemudian mengamalkannya.
Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa:
Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah.
Terjemah QS. Al-Ahzab 33: 21

Kewajiban taat kepada Rasulullah:
Katakanlah (Muhammad),  ”Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Terjemah QS. Ali Imran 3: 31
Katakanlah (Muhammad): “Ta’atilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.”
 Terjemah QS. Ali Imran 3: 32
“… dan ta’atlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman.”
QS Al Anfaal 8: 1
Kewajiban umat muslim untuk taat kepada Allah dan Rasul merupakansatu paket, yang tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
Keterbatasan ilmu kita terhadap ilmu agama, sedikitnya amal kita, jangan sampai membuat kita meremehkan segala yang datang dari Rasulullah, perintahnya, larangannya, dan ajarannya. Yang di maksud sunnah Rasulullah di sini adalah segala perbuatan, perkataan, dan tingkah laku beliau; bukan nilai/hukum sunnah (tidak wajib) dalam ibadah. Kita memiliki banyak keterbatasan, baik ilmu maupun pemahaman, jika kita berada pada kondisi ini maka kewajiban kita adalah “mengikuti” petunjuk yang sudah ada (tentu saja petunjuk yang terpercaya keabsahannya). Jika merasa sudah “mumpuni” dengan ilmu dan amal, baik paham Al Qur’an dan paham ajaran Rasulullah juga tidak sepantasnya meremehkan ajaran tersebut.
Salah satu sifat manusia memang suka berdebat, kemudian mengupayakan segala cara untuk mencari kemenangan dalam perdebatan itu. Hal inilah yang “diwanti-wanti” oleh Rasulullah agar dihindari. Setan sangat sukanimbrung dalam perdebatan untuk membisikkan perpecahan di antara kedua belah pihak. Dalam Islam, Rasulullah mengajarkan kita bertanya untuk mencari kebenaran bukan berdebat untuk mencari kemenangan. Inilah yang banyak kita lupakan saat ini, dalam jaman yang sangat jauh dari generasi Rasulullah.
Dari Abu Hurairah radhiallohu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Hentikanlah (menanyai) ku tentang apa yang aku abaikan untuk kalian. Sesungguhnya ummat yang sebelum kalian telah binasa karena mereka banyak bertanya dan mendebat para nabi mereka. Jika akumelarang kalian tentang sesuatu maka jauhilah dan jika aku memerintahkan kalian terhadap sesuatu makalakukanlah semampu kalian.”
(Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim)
Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau termasuk orang-orang yang ragu.
Terjemah QS. Al Baqarah: 147
Rasulullah juga mewasiatkan kita agar senantiasa menghitung apa yang kita ucapkan, apakah itu ada manfaat kebaikan di dalamnya atau ucapan sia-sia, apalagi ucapan yang bernilai dosa di sisi Allah.
Aisyah radhiallohu ‘anha berkata: Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam apabila membicarakan suatu hal, dan ada orang yang mau menghitungnya, niscaya ia dapat menghitungnya. HR. Bukhari-Muslim
Dilarang pula seorang muslim mengolok-olok Allah, memperdebatkan ayat-ayat Nya, Rasul Nya, agama Islam, ajaran yang dibawa Rasul, dan segala sesuatu yang termasuk syariat islam.
Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), niscaya mereka akan menjawab:
“Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja“. Katakanlah: “Mengapa kepada Allah, ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
Terjemah QS. At Taubah 9: 66
Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.
Terjemah QS. Al Isra’ 17: 36
Jangan sampai kita mengikuti perbuatan bani Israil di jaman nabi Musa ‘alaihissalam dan perbuatan mereka sangat dimurkai Allah. Kisahnya diabadikan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 67-74. Ketika itu mereka diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi. Tetapi mereka sengaja mempermainkan Nabi, banyak bertanya, dan mempersulit diri mereka sendiri dengan pertanyaan yang dibuat-buat. Akhirnya mereka nyaris tidak menjalankan apa yang diperintahkan. Memang benar, sebenarnya dengan banyak bertanya hal-hal yang tidak perlu dipertanyakanakan semakin menyusahkan kita untuk mengamalkannya.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa menjaga diri kita, sehingga diri kita senantiasa berada dalam kebaikan, mengucapkan kebaikan, mengajak kebaikan, dan mengamalkan kebaikan.

Wallahu a’lam bish showab…

Sumber :http://rninggalih.wordpress.com

Selasa, 10 April 2012

CINTA DALAM UKHUWAH

Bismillahirrahmanirrahiim ....

Berbicara tentang CINTA, definisi cinta itu luas & pengaplikasiannya juga begitu beragam,,, Tak banyak ketika seseorang ditanya tengtang definisi cinta di jawabnya dengan spontan, pasti butuh waktu untuk berfikir untuk mengutarakannya, namun perlu di perhatikan,, CINTA kepada Allah Cinta yang Hakiki, Cinta dalam Ukhuwah, Uhibbukum Fillah ^_^
Berikut pemaparan Cinta dalam Ukhuwah,
Oleh : Riri Azizah Chairiani


“… Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, Tak kan bisa kau himpun hati mereka. Tetapi Allah lah yang telah menyatupadukan mereka…” (Q.S. Al-Anfal : 63)

Ukhuwah berarti persaudaraan, dari akar kata yang mulanya berarti memperhatikan. Ukhuwah fillah atau persaudaraan sesama muslim adalah suatu model pergaulan antar manusia yang prinsipnya telah digariskan dalam al-Quran dan al-Hadits. Yaitu suatu wujud persaudaraan karena Allah.
Melalui rahmat-Nya-lah maka tumbuh rasa mahabbah (saling mencintai) antar sesama sehingga secara naluriah, manusia merasa saling membutuhkan antara satu dengan lainnya, sehingga terwujudlah persaudaraan. Oleh karena itu, manusia selain sebagai makhluk individu ia juga adalah makhluk sosial.
Ya Allah, Engkau tahu
Hati-hati ini telah berkumpul dalam cinta kepada-Mu
Bertemu dalam taat kepada-Mu
Menyatu menolong dakwah-Mu
Berjanji perjuangkan syariat-Mu
Maka eratkanlah ikatannya dan abadikan cintanya
Ini adalah sebuah doa imam besar, Syahid Hasan Al Banna. Beliau menyebutnya Do’a Pengikat. Pengikat hati. Hati yang dibangun atas kecintaan kepada-Nya. Landasannya adalah iman. Pengikatnya adalah cinta. Dengan itu, kokoh dan kuatlah umat islam.
Cinta merajutkan jiwa-jiwa dalam kelembutan yang sangat nyaman.
Cinta dalam ukhuwah seperti permadani lembut nan empuk, yang setiap orang seperti apapun dia bisa duduk bersantai di sana.
Cinta dalam ukhuwah selalu dapat menampung tetesan perbedaan dan meleburnya menjadi satu dalam bejana musyawarah. Ada kebebasan berpendapat tapi tidak ada sikap yang melukai, ada keterbukaan tetapi objektivitas berada di atas segalanya. Karena landasannya iman, dan pengikatnya adalah cinta.
Cinta dalam ukhuwah melahirkan pertanggungjawaban. Karena kita saling bertanya sejauh mana tanggung jawan atas apa yang kita perbuat di hadapan Allah?
Cinta dalam ukhuwah melahirkan kelembutan. Maka perbedaan-perbedaan kita terkelola dalam etika yang menyamankan jiwa. Pembicaraan selalu berujung amal. Perbedaan tidak akan mengubah situasi.
Seperti kata Iqbal “Seperti sapu lidi yang diikat cinta untuk membersihkan kehidupan.”
Cinta dalam ukhuwah pun memberikan energi. Untuk kebangkitan islam pasti kan menempuh jalan penuh liku. Energi cinta memicu kita untuk bergerak dan tumbuh dalam tempo yang cepat. Karena ukhuwah kita bersama. Dan ikatan cinta mengatur irama kita dalam keserasian yang indah. Itulah sebabnya ukhuwah Islamiah sudah selayaknya abadi.
 
Semoga bermanfaat, Aplikasikan cinta kepada yang semestinya...

Senin, 09 April 2012

KEUTAMAAN & HIKMAH SAKIT

Assalamu'alaikum,,,
Sahabat GEMMA yang di rahmati Allah,
sedikit mengutip artikel mengenai SAKIT.
 Untuk sebagian orang sakit merupakan musibah . Tak satuorang pun yang ingin merasakan sakit, Meskipun demikian ternyata ada maksud tertentu dari Allah atas penyakit yang diderita hamba-Nya. Dalam buku Panduan Menghadapi Sakit dan Kematian karya Ahmad Yani, disebutkan terdapat lima keutamaan sakit menurut Islam:
1. Menghapus Dosa,
Ini merupakan keutamaan yang besar dari Allah Swt karena dengan sakit yang diderita oleh seorang muslim, dosa yang pernah dilakukannya bisa terhapus karena penderitaannya dalam menghadapi penyakit menjadi kafarat (penebus) dosanya, Rasulullah Saw bersabda:
“Tiada seorang mu’min yang rasa sakit, kelelahan (kepayahan), diserang penyaki tatau kesedihan (kesusahan) sampai duri yang menusuk (tubuhnya) kecuali dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya” (HR. Bukhari).
2. Tetap Mendapatkan Pahala Dari Amal Kebaikan Yang Biasa Dilakukannya Diwaktu Sehat
Hal ini karena ia tidak bisa menjalankan amal kebaikan itu bukan karena ia tidak mau, tetapi karena ia dalarn keadaan sakit. nnisalnya kalau kita biasa ke masjid untuk shalat berjamaah, tentu kita mendapatkan pahala yang besar, setiap langkahnya diangkat baginya satu derajat dan dihapuskan satu kesalahannya kemudian malaikat akan terus mengucapkan shalawat (memintakan ampunan) kepadanya, selama dia masih berada di ruangan shalat tersebut , namun pada saat kita sakit tentu tidak bisa ke masjid tapi kita tetap mendapat pahalanya. Rasulullah Saw bersabda:
“Apabila salah seorang hamba sakit atau bepergian (safar), maka Allah mancatat pahalanya seperti pahala amal yang dikerjakannya sewaktu ia tidak bepergian atau sehat.” (HR. Bukhari).
Di dalam hadist lain, Rasulullah Saw bersabda yang menguatkan hadits di atas:
“Apabila seorang hamba sakit sedang dia biasa melakukan suatu kebaikan, maka Allah berfirman kepada malaikat: “Catatlah bagi hamba-Ku pahala seperti yang biasa ialakukan ketika sehat.” (HR. Abu Hanifah).
3. Memperoleh Pahala Kebaikan
Segala sesuatu yang terjadi pada manusia pasti ada hikmahnya. Seorang muslim yang sabar dalam menghadapi penyakit maka baginya pahala kebaikan. Rasulullah Saw bersabda:
“Tiada seorang muslim tertusuk duri atau yang lebih dari itu, kecuali Allah mencatat baginya kebaikan dan menghapus darinya dosa.” (HR. Bukhari).
Di dalam hadits lain yang senada tentang ini, Rasulullah Saw bersabda:
Barangsisapa dikehendaki oleh Allah kebaikan baginya, maka dia (diuji) dengan suatu musibah. (HR. Bukhari).
4. Memperoleh Derajat Yang Tinggi di Sisi Allah SWT
Hal ini karena di dalam surga ada derajat tertentu yang harus dicapai, bila seorang muslim tidak mampu mencapainya dengan suatu amal, maka ia bisa mem¬peroleh derajat yang tinggi itu dengan musibah atau penyakit yang dideritanya, misalnya mati syahid merupakan kematian yang sangat mulia, dia bisa dicapai dengan cara berperang di jalan Allah dan mati pada saat peperangan itu, namun bila seseorang ingin memperoleh kematian yang mulia itu, tapi perang di jalan Allah secara fisik tidak terjadi, maka ia tetap bisa mendapatkan derajat mati syahid dengan penyakit yang menimpa sehingga menyebabkan kematiannya, Rasulullah saw bersabda:
“Wabah adalah syahadah (mati syahid) bagi setiap muslim.”(HR. Bukhari)
Di dalam hadits lain, Rasulullah saw bersabda:
“Seorang hamba memiliki suatu derajat di surga. Ketika dia tidak dapat mencapainya dengan amal-amal kebaikannya, maka Allah menguji dan mencobanya agar dia dapat mencapai derajat itu.” (HR. Thabrani)
5. Memperoleh Ganjaran Berupa Surga
Mana¬kala seorang muslim menghadapi penyakit dengan penuh kesabaran, misalnya penyakit yang sangat menyulitkan penderitanya dalam kehidupan ini seperti buta matanya, Rasulullah saw bersabda:
Apabila Aku menguji hamba-Ku dengan membutakan kedua matanya dan dia bersabar, maka Aku ganti kedua matanya itu dengan surga.” (HR. Ahmad).
Dengan demikian, meskipun tidak menyenangkan, sakit merupakan ujian yang dapat memberikan keutamaan dan manfaat yang besar, baik bagi si penderita maupun keluarganya. Oleh karena itu, penyakit harus dihadapi dengan sikap, pemikiran dan prilaku yang positif. Ingat hukum Law of Attraction, kalau kita selalu berlaku positif, maka yang hal positif tersebut InsyaAllah akan datang ke kita. Misalnya ketika sakit kita berpikiran dan memasukkan ke alam bawah sadar “sehat, kuat, sabar!!”. Maka hal tersebut dapat mempercepat kesembuhan kita.

Mudah-mudah bermanfaat untuk kita semua,
Syukron sudah menyempatkan untuk membaca.

Referensi : http://rhanu.web.id

Senin, 02 April 2012

Ukhuwah Itu Indah

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pesona ukhuwah sungguh luar biasa. Ia tak terbatas waktu dan jarak sekalipun jua. Sebab ia bukan hanya dari pesona wajah ataupun kata-kata melainkan lebih dalam... yaitu ikatan rasa. Bahkan antara dua orang yang tak pernah bersua, ia tetap mengikatkan pesonanya.


Bismillahirrohmanirrohim ...

Apa kabar Sahabat GEMMA ?  semoga allah senantiasa melindungi kita semua, semoga kita senantiasa berada pada lingkup ukhuwah yang begitu indah. :)

sedikit mengutip kata-kata Hasan albanna dari sebuah artikel,
Imam Hasan Al Banna mengatakan, “Yang saya maksud dengan ukhuwah adalah terikatnya hati dan ruhani dengan ikatan aqidah. Aqidah adalah sekokoh-kokoh ikatan dan semulia-mulianya. Ukhuwah adalah saudaranya keimanan, sedangkan perpecahan adalah saudara kembarnya kekufuran. Kekuatan yang pertama adalah kekuatan persatuan; tidak ada persatuan tanpa cinta kasih; minimal cinta kasih adalah kelapangan dada dan maksimalnya adalah itsar (mementingkan orang lain dari diri sendiri).”

Ukhuwah dalam gerakan da’wah akan mengokohkan dan memantapkan pijakan serta gerak langkah jama’ah dalam mewujudkan proses perjuangan mewujudkan tujuan-tujuan da’wah. Jumlah anggota yang banyak dalam jama’ah perlu diikat dengan ikatan ukhuwah yang kokoh untuk menyatukan jalan dan meminimalisasikan friksi internal yang dikarenakan perbedaan pandangan dalam masalah-masalah cabang.

Imam Hasan Al Banna menetapkan tiga pilar ikatan ukhuwah, yakni ta’aruf, tafahum, dan takaful.
Tentang ta’aruf, saling mengenal, beliau menasihatkan untuk saling mengenal dan saling berkasih sayang dengan ruhullah, menghayati makna ukhuwah yang benar dan utuh di antara sesama anggota, berusahalah agar tidak ada sesuatu pun yang menodai ikatan ukhuwah, dan menghadirkan selalu bayangan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadits tentang ukhuwah.

Tentang tafahum, saling memahami, beliau berpesan bahwa ia adalah pilar kedua dalam ukhuwah. Beliau menasihati untuk istiqamah dalam manhaj yang benar, menunaikan apa-apa yang diperintahkan Allah kepadanya, dan tinggalkan apa-apa yang dilarang, melakukan evaluasi diri dengan evaluasi yang detail dalam hal ketaatan dan kemaksiatan, setelah itu bersedia menasehati saudaranya yang lain begitu aib tampak padanya. Hendaklah seseorang menerima nasehat saudaranya dengan penuh rasa suka cita dan ucapkan terima kasih padanya.
Tentang takaful, saling menanggung beban, yang merupakan pilar ketiga, beliau berpesan agar saling memikul beban sebagian yang lain. Demikian itulah fenomena konkret iman dan intisari ukhuwah. Hendaklah sebagian dari mereka senantiasa bertanya kepada sebagian yang lain (tentang kondisi kehidupannya). Jika didapatkan padanya kesulitan, segeralah memberi pertolongan selama ada jalan untuk itu, serta menghadirkan di dalam benak tentang hadits-hadits tentang tolong menolong dan fadhilahnya.

Lihatlah gambar semut itu, Ada yang bisa mendeskripsikan makna dalam sebuah ukhwah???
*pasti antum semua punya cara berbeda untuk mendeskrisikannya, ^_^
Kecil, seberapa besar sih tenaga seekor semut???
secara logika, tidak apa-apanya jika di bandingkan dengan bobot apel yang mungkin bisa 1000x lipat dari pada bobot semut.
Kita sering melihat segerombolan semut,,, luar biasa ukhuwah semut-semut itu,,,
Lihatlah keindahannya,,,
satu sama lain tidak membedakan, saling menopang, saling memahami, saling bekerjasama, tolong menolong, bergotongroyong,..dsb.
Kita bisa ambil pelajaran dan hikmah yang bisa kita terapkan dalam kehidupan kita. Di rumah, sekolah, lingkungan, masyarakan begitupun dalam lingkup dakwah seperti organisasi Kemasjidan.

Keindahan itu tidak harus yang selalu tampak pada penglihatan mata.Tapi keindahan hati yang tampak pada penglihatan Allah ... :)

Salam Ukhuwah dari GEMMA JP, 

Wallohu'alam Bishowab,